Perusakan Makam Nodai Nilai Luhur Islam dan Coreng Ukhuwah Wathoniyah

Aksi pengrusakan makam Kiai Ageng Prawiropurbo atau biasa disebut Ndoro Purbo di Jl Kusumanegara, Yogyakarta, telah menodai nilai-nilai luhur agama Islam serta mencoreng ukhuwah wathoniah (persaudaraan sebangsa).

1379640246Demikian disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Majalengka, KH Maman Imanulhaq di Cirebon, Kamis (19/9).

“Saya mengajak kelompok tersebut (yang merusak, red) untuk melihat realitas budaya masyarakat dan membuka seluruh teks-teks keagamaan (Islam) lalu dengan rendah hati serta jujur mengakui bahwa perusakan makam itu telah menodai nilai-nilai luhur agama Islam serta mencoreng ukhuwah wathoniah,” ujar Maman, yang juga Majelis Nasional ANBTI, Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika.

Kaum Muslimin di berbagai belahan dunia memiliki tradisi ziarah ke makam sebagai penghormatan dan bukan sebagai kegiatan musyrik yang berlawanan dengan aqidah Islam. Tradisi yang telah menjadi budaya itu harus dihormati dan sekaligus didukung sebagai rasa cinta kepada leluhur.

Ziarah ke makam, menurutnya, merupakan kearifan lokal yang mampu menguatkan pertautan batin sesama manusia (‘alaqoh ruh).  Lebih dari itu, mereka yang melakukan ziarah bisa mengambil pelajaran dari perilaku dan tauladan yang dilakukan para pendahulu atau tokoh yang diziarahi. Tradisi itu juga sebagai bentuk dzikir yaitu mengingatkan mereka yang masih hidup suatu saat akan kembali kepada Sang Pencipta.

Penghancuran makam di Yogya oleh kelompok bercadar yang tidak bertanggung jawab tidak mewakili paham Islam yang humanis dan menghargai tradisi lokal. Mereka adalah kelompok yang memiliki pemahaman Islam yang sangat dangkal, ahistoris dan tidak menerima kenyataan yang ada bahwa Islam tumbuh dalam suatu tradisi Indonesia yang pluralistik.

Indonesia telah memiliki sejarah percobaan penghancuran Candi Borobudur yang adalah candi terbesar warisan dunia dan memberikan kebangsaan Indonesia. “Jika bangsa Indonesia sendiri tidak dapat menghargai warisan budaya dari para pendahulunya dengan alasan musyrik, lalu warisan apa yang dapat diberikan kepada generasi mendatang,” ujarnya. (Ahmad Rosyidi/Anam

 

NU Online

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: