Khawarij VERSUS Syi’ah, Sampai Kapan ?

Perseteruan Khawarij dan Syiah sudah ada semenjak dahulu. Tidak ada catatannya Aswaja nyrobot main serang dan sering. Kehidupan Aswaja (Ahlus Shuffah) adem-adem saja lebih suka menyendiri beri’tikaf di dalam masjid, ta’lim wa ta’allum dan bermajelis dzikir bersama.

Baik Syiah maupun Khawarij saat itu keduanya tidak diikuti oleh Sayyidina Ali Kw. selaku Khalifah Di masa itu. Aswaja semenjak dahulu tidak membenarkan takfir (pengkafiran) yang merupakan budaya kaum Khawarij yang telah mengkafirkan para sahabat, mengkafirkan Sayyidina Ali dan para pengikutnya dan siapa saja yang bersamanya. Meski demikian, Sayyidina Ali tidak mau mengkafirkan mereka.

Para sahabat bertanya: “Apakah mereka (kaum Khawarij) adalah orang-orang kafir?”

Sayyidina Ali menjawab: “Tidak , mereka lari dari kekufuran.”

“Apakah mereka orang munafik?” tanya mereka lagi.

“Tidak, orang-orang munafik tidak berdzikir menyebut nama Allah, sedangkan mereka banyak berdzikir menyebutNya.”

“Lalu kami namakan apakah mereka?” tanya mereka. “Mereka adalah saudara-saudara kita yang telah memerangi kita.”

Dalam riwayat lain Sayyidina Ali Ra. berkata: “Mereka telah ditimpa fitnah, maka mereka buta dan tuli.”

Beliau tidak mau menyebut mereka kafir atau munafik. Maka manhaj Sayyidina Ali inilah yang juga merupakan manhaj al-Faqih al-Muqaddam, Sayyidina Assegaf, Sayyidina al-Muhdhar, dst. Inilah yang dianut dan dipegang teguh Aswaja semenjak dahulu.

Padahal, orang-orang Khawarij membawa pedang dan memerangi Sayyidina Ali. Mereka telah memerangi manusia-manusia terbaik dari umat ini yang begitu jelas disaksikan keutamaan mereka oleh al-Quran dengan sebutan as-sâbiqûn al-awwalûn. Namun sekali lagi, Imam Ali tak mau mengkafirkan mereka, apalagi mencaci-maki 3 sahabat ternama (Abubakar, Umar dan Utsman), serta Ummahatul Mukminin seperti Sayyidah Aisyah.

Mereka mengatasi perkara ini tidak dengan mencaci dan memaki, tetapi dengan memintanya bertaubat, dan menjelaskan masalah kepadanya. Jika ia tidak juga bertaubat maka diserahkan kepada walîyyul amri (pemerintah). Penyelesaian masalah oleh mereka hanya sampai di sini saja. Inilah cara yang ditempuh oleh para salaf shaleh (Aswaja).

Adapun dalam menyikapi sebuah perbedaan pendapat, Aswaja selalu menyikapi dengan bijaksana. Kemudian memberikan bimbingan dengan rahmat dan kasih sayang serta dengan berusaha untuk menjelaskan hakikat permasalahan semaksimal mungkin. Merekatkan kembali perpecahan dan meredam fitnah semampu kita. Seperti yang telah dilakukan dan menjadi agenda Thariqat Sarkubiyah dengan Profesornya KH. Thobary Syadzily.

Inilah seharusnya sikap yang sama-sama harus dimiliki baik Syiah maupun Wahabi. Marilah semaksimal mungkin kita berusaha agar jangan ada di antara kita pencaci, pemaki, pelaknat, dan yang sering mengkafir-kafirkan. Adapun apa yang kamu lakukan selama ini hanya Reaksi atas Aksi (dawuhipun Lora Zainur Rahman van Hamme).

Semoga kemelut konflik Sunni-Syiah, Sunni-Wahabi dan Syiah-Wahabi, tersudahi dengan tanpa kucuran darah setetespun. Stop Caci-Maki! Stop Takfir-Watadhlil! Stop teriak bid’ah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: