Catatan Debat ASWAJA versus WAHABI di BATAM

Slide12-300x225

Catatan Debat ASWAJA vs WAHABI di BATAM (Bag.1)

Pada acara diskusi live yang diadakan di lokasi kantor Kemenag- Batam antara pihak salafi yang diwakili oleh Ustadz Zainal Abidin dan ustadz Firanda dan pihak Aswaja yang diwakili oleh ustadz Idrus Romli dan KH Thabari Syadzili, banyak sekali respon dan komentar para pendengar dan penyimaknya dari masing-masing pihak. Topic yang menjadi pembahasan dialog saat itu adalah :

  1. Ma’na dan hukum Bid’ah
  2. Hukum Talaffudz dengan niat dan Qunut
  3. Tahlilan, Yasinan dan dzikir bersama
  4. Ziarah kubur, Tabarruk dan wasilah

Dialog yang disampaikan pihak salafi, perlu kiranya saya luruskan dan saya tanggapi karena banyak syubhat dan tadlis yang dilontarkan mereka dan juga sebagai tambahan pencerahan bagi kita semua insya Allah.

LENGKAPNYA >> http://www.aswj-rg.com/2014/01/catitan-debat-aswaja-vs-wahabi-di-batam-bhg-1.html

Catatan Debat ASWAJA vs WAHABI di BATAM (Bag.2)

Point berikutnya ustadz Zainal membuat persepsi bahwa “ Tidak ada yang namanya bid’ah hasanah. Bid’ah itu konotasinya selalu jelek dan sesat, jadi tidak ada dalilnya sedangkan hasanah itu pasti baik, ada dalilnya. Tidak mungkin kalimat bid’ah dan kalimat hasanah kumpul jadi satu.

Tanggapan saya :

Pernyataan ustadz Zainal sama sekali tidaklah benar. Penyimpulan ustadz Zainal ini berangkat dari memahami definisi bid’ah imam asy-Syathibi yang dipahaminya dengan pemahaman pincang sebelah.

Asy-Syatibi yang berakidahkan asy’ari tulen ini sebenarnya sepakat dengan pemahaman jumhur ulama bahwa ada perkara baru dalam agama yang diterima oleh syare’at. Meskipun beliau tidak mau menyebutnya bid’ah, akan tetapi beliau menyebutnya sebagai maslahah mursalah atau bid’ah fil lafadz. Bagi kami (Aswaja) hal itu bukanlah suatu masalah yang mencolok, hanya perbedaan istilah saja, adapun esensi maknanya sama, tidak berbeda. Perhatikan ucapan asy-Syathibi berikut ketika mengomentari pembagian bid’ah imam al-Izz bin Abdissalam berikut :

وصار من القائلين بالمصالح المرسلة، وسماها بدعاً في اللفظ، كما سمى عمر رضي الله عنه الجمع في قيام رمضان في المسجد بدعة

“ Dan ia (Ibnu Abdissalam) termasuk orang yang mengatakan dengan masalah mursalah dan ia menamakannya bid’ah secara lafaz / bahasa, sebagaimana Umar radhiallahu ‘anhu menamakan kumpulan dalam sholat tarawih di bulan Ramadhan dengan bid’ah “[1]

LENGKAPNYA >>> http://www.aswj-rg.com/2014/01/catitan-debat-aswaja-vs-wahabi-di-batam-bhg-2.html

Catatan Debat Aswaja vs Wahabi (Bag. 3)

Point berikutnya, giliran ustadz Firanda yang angkat bicara dalam dialog tersebut. Ustadz Firanda menyinggung juga masalah bid’ah hasanah. Menurutnya bid’ah hasanah yang dikatakan oleh para ulama syafi’iyyah dan imam Syafi’i adalah dalam pengertian yang bukan dipahami oleh Aswaja selama ini. Firanda mengatakan :

“ Ternyata yang menjadikan imam Syafi’i yang mengatakan ada bid’ah hasanah karena adanya atsar Umar bin Khaththab yang mengatakan “ Ni’matil bid’atu hadzihi “. Dan kita sepakat bahwa sholat Tarawih bukan bid’ah Karen telah dilakukan oleh Nabi selama 3 hari berturut-turut bersama sahabat, hanya saja di zaman Abu Bakar ash-Shiddiq tidak dikerjakan karena beliau sibuk dengan stabilitas keamanan Negara, ada orang-orang yang murtad, ada orang-orang yang enggan bayar zakat, ada Nabi palsu Musailamah al-Kadzdzab…”

Sampai di sini penjelasan Firanda terputus dikarenakan durasi waktunya telah habis. Namun saya sangat paham arah dan maksud pembicaraanya. Firanda ingin mengutarakan alasan yang disebutkan imam asy-Syathibi dalam kitabnya al-I’tisham sebagai berikut :
LENGKAPNYA >> http://www.aswj-rg.com/2014/01/catitan-debat-aswaja-vs-wahabi-bahagian-iii.html

Catatan Debat Aswaja vs Wahabi di Batam (Bag.4)

Tentang Atsar Abdullah bin Mas’ud, perbuatan barunya dan takhshish hadits kullu bid’atin.

Firanda kemudian menyanggah sanggahan dari ustadz Idrus Romli, yang menurutnya Idrus Romli salah dalam berhujjah mengenai takhshish hadits kullu bid’atin. Firanda menyangka ustadz Idrus membawakan dalil atsar Ibnu Mas’ud “ Maa roaahul muslimuuna hasanah fahuwa ‘indallahi hasan “ untuk mentakhshish / membatasi hadits kullu bid’atin. Kemudian Firanda menjelaskan maksud dari makna atsar tersebut yang subtansinya mengenai dalil ijma’ ulama. Lalu membuat kesimpulan yang menyalahkan ustadz Idrus padahal tidak dikatakan sama sekali oleh ustadz Idrus.

Tanggapan saya :

Ustadz Firanda kurang cermat mendengarkan dan memperhatikan hujjah dari ustadz Idrus Romli. Ketika ustadz Idrus Romli membawakan atsar Ibnu Mas’ud tersebut, beliau posisinya bukan untuk membawakan dalil takhshish untuk hadits kullu bid’atin sebagaimana sangkaan ustadz Firanda. Akan tetapi ustadz Idrus membawakan atsar tersebut dalam rangka ingin menyanggang hujjah ustadz Zainal yang berasumsi bahwa sahabat Abdullah bin Mas’ud menolak bid’ah hasanah dengan membawakan atsar Ibnu Mas’ud “ Ittabi’uu wa laa tabtadi’uu fa qod kufiitum “. Maka lalu oleh ustadz Idrus dibawakan dalil yang menunjukkan bahwa Abdullah bin Mas’ud juga melegalkan bid’ah hasanah dengan hujjah atsar beliau yang mengatakan :

ما رآه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن

“ Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, maka itu baik di sisi Allah “

LENGKAPNYA >> http://www.aswj-rg.com/2014/01/catitan-debat-aswaja-vs-wahabi-bahagian-4.html

 

2 Responses

  1. idrus koplak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: