Atjehcyber Net Bukan Website Islam Aswaja

Untuk Aswaja, hendaknya waspada website seperti Atjeh Cyber http://www.atjehcyber.net/. Ini adalah website yang pro radikalisme, bahkan pro terhadap teroris ISIS. Website yang sudah aktif sejak tahun 2011 ini memiliki fanpage https://www.facebook.com/ATJEH.CYBER.WARRIOR dengan member sekitar 70-an ribu. Email iewal.i7i0.azzans@gmail.com

web aceh cyber

web aceh cyber 1

18 Responses

  1. FPI itu juga aswaja, doyan tahlilah, ziarah kubur bahkan habib rizieq PRO syiah, tapi juga kasar. Definisi aswaja itu rancu, Aswaja di jawa atw indo itu berbeda dgn diluar negeri

  2. ANE PRIHATIN…. dengan orang-orang yang slalu mencari perhatian publik dengan cara menjelek-jelekan orang lain… kenapa prihatin ?

    karena cara yang provokatif kaya begini adalah sebuah pengakuan bahwa PELAKUNYA tidak sanggup lagi / tak tahu bagaimana cara berdakwah menurut islam yang telah di contohkan oleh Rasulullah.

    justru kita jauh lebih percaya dengan orang yang di jelek-jelekan itu sendiri…

    kepada pemilik website ini (khususnya) dan kepada pembaca lain ( umumnya)

    kalian muslim, bukan !!! lakukanlah saja kewajiban kita yang sudah tersusun dalam rukun islam dan rukun iman.

    SHOLAT aja belum ada yang benar dan khusu, kok.

  3. Kalo untuk Website Atjehcyber.com Gimna Om? Kayaknya Aman aja ya😀

  4. menjelekan orang lain justru akan membuat kelihatan kejelekan diri kita sendiri yang sangat banyak.

  5. Darimana Anda menyimpulkan ISIS itu TERORIS…………???

    MANA FATWA RESMI MUInya…………?!!!!

    (jika HUJJAH mu itu benar………….)

    mana link address mengenai fatwa resmi MUI ????

    ISIS atau IS atau Daesh atau ISIL itu juga SUNNI (Aswaja)
    karena memerangi pemerintahan IRAQ & SYAM yang syi’ah….!!!!

    (SYI”AH kok memerangi SYI”AH………..????)

  6. ADAB UMMAT MUSLIM DALAM “MENERIMA KABAR” :

    QS Al-Hujuraat ayat 6 :
    Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita,
    maka periksalah dengan teliti (tabayyun) agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum
    tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

    QS Al-Maa’idah ayat 8 :
    Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran)
    karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu
    terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah,
    karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah,
    sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

    QS An-Nuur ayat 14-15 :
    Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat,
    niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu.
    (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan
    kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga,
    dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia (berita tsb) pada sisi Allah adalah
    besar (tidak sepele).

    ——

    Al Hadits-1 :
    dari Abu Hurairoh berkata bahwa Rasulullah saw telah bersabda :
    ”Cukuplah bagi orang itu disebut pembohong apabila
    dia membicarakan setiap yang dia dengar,” (HR. Muslim)

    Al Hadits-2 :
    dari al Mugiroh dari Syu’ah berkata,”Nabi saw bersabda
    ’Sesungguhnya Allah swt telah mengharamkan durhaka terhadap ibu,
    mengubur bayi perempuan (hidup-hidup),
    melarang dari meminta sesuatu yang bukan haknya’ dan
    beliau saw tidak menyukai kalian mengatakan “KATANYA”,
    banyak bertanya dan menghambur-hamburkan harta.” (HR. Bukhori)

    Al Hadits-3 :
    dari Abu Hurairoh dari Nabi saw bersabda,
    ”Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir
    maka hendaklah berkata yang baik atau diam.” (Muttafaq Alaih)

    Al Hadits-4 :
    “Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa ta’ala membenci tiga perkara:
    menyebarkan desas-desus (kabar angin), menghambur-hamburkan harta,
    banyak pertanyaan yang tujuannya menyelisihi jawabannya.”
    (HR. Bukhari dan Muslim)

    Al Hadits-5 :
    Sesungguhnya kedustaan akan membawa kepada keburukan dan
    keburukan akan membawa kepada api neraka.
    Dan sesungguhnya seseorang jika dia berdusta dan membiasakan dirinya
    berdusta maka akan ditulis di sisi Allah bahwa dia pendusta besar
    (HR. Bukhari dan Muslim)

  7. INILAH ASWAJAH (Ahlu Sunnah wal Jama’ah = Sunni) :

    MUNCULNYA PANJI-PANJI HITAM DARI TIMUR (KHURASAN),
    IMAM MAHDI, & KEUTAMAAN NEGERI SYAM (SURIAH) :

    Al Hadits-1 :
    Ibnu Masud RA meriwayatkan bahwa,
    “Kami mendatangi Rasulullah SAW dan baginda keluar dengan membawa berita gembira,
    dan kegembiraan itu terbayang pada wajahnya.
    Kami bertanya kepada baginda perkara yang menggembirakan itu dan
    kami tidak sabar untuk mendengarnya.
    Tiba-tiba datanglah sekumpulan anak-anak muda Bani Hasyim yang di antaranya
    adalah al-Hasan dan al-Husain RA. Apabila (ketika) terpandangkan mereka,
    tiba-tiba kedua mata baginda berlinangan lalu kami pun bertanya,
    “Wahai Rasulullah, kami melihat sesuatu yang kami tidak sukai pada wajahmu.”
    Baginda menjawab, “Kami Ahlulbait, telah Allah pilih akhirat kami lebih dari dunia kami.
    Kaum kerabatku akan menerima bencana dan penyingkiran selepasku kelak sehingga
    datanglah Panji-panji Hitam dari Timur. Mereka meminta kebaikan tetapi tidak diberikannya.
    Maka mereka pun berjuang dan memperoleh kejayaan.
    Sesiapa di antara kamu atau keturunan kamu yang hidup pada masa itu,
    datangilah Imam yang dari ahli keluargaku walau terpaksa merangkak di atas salju.
    Sungguh, mereka adalah pembawa Panji-panji yang mendapat hidayah.
    Mereka akan menyerahkannya kepada seorang lelaki dari ahli keluargaku yang namanya
    seperti namaku, dan nama bapanya seperti nama bapaku.
    Dia akan memenuhkan dunia ini dengan keadilan dan kesaksamaan.”
    (Abu Daud, At-Tarmizi, Al-Hakim, Ibnu Hibban, Ibnu Majah)

    Al Hadits-2 :
    “Akan berperang tiga orang di sisi perbendaharaanmu.
    Mereka semua adalah putera khalifah.
    Tetapi tak seorang pun di antara mereka yang berhasil menguasainya.
    Kemudian muncullah bendera-bendera (PANJI) hitam dari arah timur (KHURASAN),
    ____

    LANTAS MEREKA MEMERANGI (MEMBUNUH) DG SUATU PEPERANGAN (PEMBUNUHAN)
    YG BELUM PERNAH DIALAMI OLEH KAUM SEBELUM MU.”
    ____
    Kemudian Beliau saw menyebutkan sesuatu yang aku tidak hafal,
    lalu bersabda: “Maka jika kamu melihatnya, berbai’atlah walaupun
    dengan merangkak di alas salju, karena dia adalah khalifah Allah Al-Mahdi.”

    (Sunan Ibnu Majah, Kitabul Fitan Bab Khurujil Mahdi 2: 1467:
    Mustadrak Al-Hakim 4: 463-464. Dan dia berkata, “Ini adalah hadits shahih
    menurut syarat Syaikhain.” An-Nihayah fit Firan 1:29 dengan tahqiq DR. Thana Zaini)

    Al Hadits-3 :
    “Andaikan dunia tinggal sehari sungguh Allah akan panjangkan hari tersebut
    sehingga diutus padanya seorang lelaki dari ahli baitku (keturunan ku)
    namanya serupa namaku dan nama ayahnya serupa nama ayahku.
    Ia akan penuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan
    sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan penganiayaan.”
    (HR abu Dawud No. 9435)

    Al Hadits-4 :
    Rasulullah bersabda : “Al-Mahdi dari keluargaku, dari putra Fathimah.”
    (HR. Abu Dawud dan ini lafadznya, Shahih Sunan no. 4284, Ibnu Majah no. 4086,
    dan Al-Hakim no. 8735, 8736)

    Al Hadits-5 :
    “Al-Mahdi dariku, dahinya lebar, hidungnya mancung,
    memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana (sebelumnya)
    telah dipenuhi dengan kedzaliman, berkuasa selama 7 tahun.”
    (HR. Abu Dawud no. 4285 dan ini lafadznya, Ibnu Majah no. 4083,
    At-Tirmidzi, Kitabul Fitan Bab Ma Ja`a Fil Mahdi no. 2232,
    Ibnu Hibban no. 6823, 6826 dan Al-Hakim no. 8733, 8734, 8737)

    Al Hadits-6 :
    “Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang berperang di atas kebenaran.
    Mereka meraih kemenangan atas orang-orang yang memerangi mereka,
    sampai akhirnya kelompok terakhir mereka memerangi Dajjal.”
    (HR. Abu Daud: Kitab al-jihad no. 2125, Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 1959)

    Al Hadits-7 :
    “Urusan ini akan sampai pada pasukan yang akan dibariskan.
    Pasukan di Syam, pasukan di Yaman dan pasukan di Irak.”
    Ibnu Khawalah berkata: “wahai Rasulullah, pilihkan untuk saya
    jika aku menjumpai hal tersebut.”
    Beliau bersabda: “hendaklah engkau memilih Syam (bergabung dengan pasukan Syam)
    karena mereka pilihan Allah dari muka bumi yang Ia pilih dari hamba-hamba-Nya.
    Jika engau tidak bisa, maka ke Yaman kalian dan berilah minum dari sumber-sumber
    mata air kalian, karena Allah memilih untukku Syam dan penduduknya”
    (HR Imam Abu Dawud dari Abdullah bin Khawalah yang disahihkan oleh Ibnu hibban dan Syaikh Al-Bani)

    Al Hadits-8 :
    “Sebagian umatku ada yang selalu melaksanakan perintah Allah,
    tak terpengaruh orang yang mencela dan tidak pula orang yang berseberangan
    hingga datang keputusan Allah, dan mereka senantiasa dalam keadaan demikian.
    Mu’adz berkata: dan mereka ada di Syam.“
    (HR.Bukhari)

    Al Hadits-9 :
    Rasulullah berdoa : “Ya Allah, berilah kami barakah pada negeri Syam,
    ya Allah berilah kami barakah pada negeri Yaman.”
    Para sahabat bertanya: “termasuk Nejed ?”
    Rasulullah berdoa: “Ya Allah berilah kami barakah pada negeri Syam,
    ya Allah berilah kami barakah pada negeri Yaman.”
    Para sahabat masih bertanya: “termasuk Nejed ?”
    Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
    “Di sana (negeri Nejed atau Iraq) terjadi gempa dan huru-hara,
    dan di sana muncul dua tanduk syetan.
    (HR. Bukhari)

    Al Hadits-10 :
    Rasulullah bersabda : “Beruntunglah negeri Syam.”
    Sahabat bertanya: “mengapa ?”
    Jawab Nabi shollalllahu ‘alaihi wa sallam:
    “Malaikat rahmat membentangkan sayapnya di atas negeri Syam.”
    (HR. Imam Ahmad)

  8. INILAH manhaj kaffah ASWAJAH (Ahlu Sunnah wal Jama’ah = Sunni) :

    Tentang memilih Pemimpin non-Muslim :

    QS Al-Maa’idah ayat 51 :
    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani
    menjadi pemimpin-pemimpin (bagimu), sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain.
    Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi auliya’ (wali/pemimpin),
    maka sesungguhnya ia termasuk golongan mereka.

    QS Ali Imran ayat 28 :
    Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin)
    dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian,
    niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat)
    memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.
    Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya.
    Dan hanya kepada Allah kembali (dirimu).

    QS Ali Imran ayat 118-120 :
    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi
    teman kepercayaanmu orang-orang yang (berada) di luar kalanganmu
    (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu.
    Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka,
    dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi.
    Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.
    Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu,
    dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya…
    Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati,
    tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya.

    Imam Ath Thabari ketika menafsirkan ayat ini (QS Ali Imran ayat 118-120) berkata,
    “Siapa menjadikan mereka sebagai (wali) pemimpin dan sekutu dan
    membantu mereka dalam melawan kaum muslimin, maka ia adalah
    orang yang seagama dan se-millah (segolongan) dengan mereka.
    Karena tak ada seorangpun yang menjadikan orang lain sebagai
    pemimpinnya kecuali ia ridho dengan diri orang itu, agamanya, dan kondisinya.
    Bila ia telah ridho dengan diri dan agama walinya itu, berarti ia telah memusuhi
    dan membenci lawannya, sehingga hukumnya (kedudukan dia) adalah
    (seperti) hukum pemimpinnya (walinya).”
    (Tafsir Ath Thabari 6/160)

    QS An Nisa’ ayat 138-139 :
    Kabarkanlah kepada orang-orang munafiq bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih,
    yaitu
    mereka yang mengambil orang-orang kafir sebagai auliya’ (wali/pemimpin)
    dengan meninggalkan orang-orang mu`min. Apakah mereka mencari kemuliaan di sisi
    orang kafir? Maka sesungguhnya semua kemuliaan milik Allah.

    QS An-Nisa ayat 150-151 :
    “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya,
    dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya,
    dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan
    Kami kafir terhadap sebahagian (yang lain dari Al-Quran & As-Sunnah)”,
    serta bermaksud (dengan Perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara
    yang demikian (antara iman atau kafir). Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya.
    Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.”

  9. NILAH manhaj kaffah ASWAJAH (Ahlu Sunnah wal Jama’ah = Sunni) :

    Tentang Hukum Syariat Islam, Pemimpin Thoghut, dan Ulama Suu’ :

    QS Al-Maa’idah ayat 44 :
    Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit.
    Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah,
    maka mereka itu adalah orang-orang yang KAFIR.

    QS Al-Maa’idah ayat 50 :
    Apakah hukum Jahiliyah (buatan manusia) yang mereka kehendaki, dan
    (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi
    orang-orang yang yakin (beriman) ?

    QS Al-Mumtahanah ayat 10 :
    Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu.
    Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

    QS Al-An ‘Aam ayat 114-115 :
    Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah,
    padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu
    dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab
    kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan
    dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali
    termasuk orang yang ragu-ragu.
    Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran)
    sebagai kalimat yang benar dan adil.
    Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya dan
    Dia lah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui.

    QS At Tiin ayat 8:
    Bukankah Allah (adalah) Hakim yang paling adil?

    QS Yunus ayat 109 :
    Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu,
    dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan
    Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.

    QS Al Kahfi ayat 26 :
    dan Dia (Allah) tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya
    dalam menetapkan keputusan.”

    QS Al-A’raf ayat 182-183 :
    “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami (Al-Qu’ran & As-Sunnah),
    akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (kearah kebinasaan),
    dengan cara yang tidak mereka ketahui.
    Dan Aku akan memberikan tenggang waktu, sungguh rencana-Ku sangat teguh.”

    QS Al Baqarah ayat 85 :
    Apakah kamu beriman kepada sebagian Al Kitab (Al-Quran) dan
    ingkar terhadap sebagian yang lain?
    Tidak ada balasan bagi orang yang berbuat demikian
    darimu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia,
    dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada
    siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa
    yang kamu perbuat

    QS Al-Aaraf ayat 175-177 :
    Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya
    ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri
    dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda),
    maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.
    Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan
    ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya
    yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya
    lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah
    perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka)
    kisah-kisah itu agar mereka berfikir.
    Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada
    diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.

    QS At Taubah ayat 33 :
    Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran)dan agama yang benar
    untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai (membencinya).

    QS Al Baqarah ayat 256 :
    Barangsiapa yang Kafir kepada THOGHUT dan Iman kepada Allah
    maka dia telah berpegang teguh kepada Al Urwah Al Wutsqa
    yang tidak ada putusnya.” (Al Baqarah : 256)

    (Al Urwah Al Wutsqa = kalimat Tauhid “La ilaha Ilallah”)

    QS An Nisaa’ ayat 60 :
    “Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku
    bahwa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu,
    dan kepada apa yang diturunkan sebelummu?
    Tetapi mereka masih menginginkan ketetapan hukum kepada THOGHUT,
    padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari THOGHUT.
    Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) kesesatan yang sejauh-jauhnya.”

    QS An Nisaa’ ayat 76 :
    Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah,
    dan orang-orang yang kafir berperang di jalan THOGHUT,,
    sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu,
    karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.

    QS An Nahl ayat 36 :
    Dan telah kami utus pada tiap ummat seorang rasul (untuk menyeru kaumnya)
    ibadatilah Allah dan jauhilah THOGHUT.

    QS Az Zumar ayat 17 :
    Dan orang orang yang menjauhi THOGHUT untuk tidak mengibadatinya dan
    kembali kepada Allah, bagi mereka kabar gembira.

    QS. Al-Hujurat ayat 1 :
    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya
    dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

    Maksud ayat tersebut (QS. Al-Hujurat ayat 1) sebagaimana dijelaskan oleh
    Ibnu ‘Abbas RA dalam riwayat ‘Ali bin Abu Thalhah berkata :
    “Janganlah kalian mengatakan sesuatu yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah”.

    QS An-Nisa ayat 150-151 :
    “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya,
    dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya,
    dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan
    Kami kafir terhadap sebahagian (yang lain dari Al-Quran & As-Sunnah)”,
    serta bermaksud (dengan Perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara
    yang demikian (iman atau kafir).Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya.
    Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.”

    QS Al-Jumuah ayat 5 :
    “Perumpamaan orang-orang (yang berilmu/ulama) yang dipikulkan kepadanya Taurat,
    kemudian mereka tiada (kemauan) memikulnya adalah seperti keledai yang membawa
    Kitab-Kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan
    ayat-ayat Allah itu. dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.”

    Imam Tarmidzi RA berkata :
    Sampaikanlah kebenaran, karena dengannya engkau akan memperoleh banyak kebaikan.
    Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Pahala akan terus mengalir kepada orang yang
    menyampaikan ilmu kepada orang lain lalu diamalkan, meskipun ia telah wafat”
    (HR.Tirmidzi)

    Rasulullah SAW bersabda:
    “Perumpamaan orang yang mempelajari ilmu kemudian tidak menyampaikannya adalah
    seperti orang yang menyimpan harta namun tidak menafkahkannya darinya
    (membayarkan zakatnya/beramal)”
    [Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraniy dalam Al-Ausath no. 689; shahih – lihat Ash-Shahiihah no. 3479].

    Beliau SAW juga bersabda:
    “Barangsiapa yang menyembunyikan ilmu, niscaya Allah akan mengikatnya dengan
    tali kekang (pada) api neraka di hari kiamat kelak”
    [Diriwayatkan oleh Ibnu Hibbaan no. 96, Al-Haakim 1/102, dan Al-Khathiib dalam
    Taariikh Baghdaad 5/38-39; hasan].

    Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata :
    ” Setiap ummat yang tidak berperang maka Ia itu akan mengalami kebinasaan
    yang besar dengan penguasaan musuh terhadapnya dan penguasaannya terhadap
    jiwa dan harta. Meninggalkan Jihad itu memestikan kebinasaan di dunia sebagaimana
    yang disaksikan manusia. Dan adapun di Akhirat maka bagi Mereka itu adzab Neraka ”

    *) Abu Sulaiman Al Arkhabily berpendapat :
    Benar Ibnu Taimiyyah -rahimahullah-, bukankah para Thaghut (dan ansharnya) menguasai
    harta dan diri Kita akibat Kita tidak berjihad dan lebih cenderung kepada dunia.
    Mereka setiap saat bisa menangkap dan membunuh Kita dan setiap saat bisa merampas
    dan membekukan aset Kita. Itulah hukuman dunia dari Alloh terhadap ummat Islam
    yang tidak berjihad, di samping adzab yang disiapkan di Akhirat. ”

    ——-

    PENGERTIAN THOGHUT :

    IMAM ASY SYAFI’I :
    “Siapa yang berijtihad dan MENETAPKAN HUKUM di luar hukum dan aturan Islam,
    dia bukan seorang mujtahid dan bukan seorang muslim,
    baik sesuai Islam ataupun menyelisihi ajaran Islam.
    Dia adalah orang yang tidak berakal,
    dia menjadi kafir karena menyelisihi hukum dan ketentuan Islam.”
    [Kitab Kalimah Al Haqin, hal.96]

    Syaikhul Islam IBNU TAIMIYAH :
    “Tidak diragukan lagi bahwa orang yang tidak meyakini wajibnya berhukum
    terhadap apa yang Allah dan RasulNya turunkan, dia adalah kafir.
    Barangsiapa yang MENERAPKAN HUKUM BUATAN dan tidak mengikuti apa yang Allah turunkan,
    dia adalah kafir, tidak ada satu umat pun melainkan diperintah
    untuk berhukum dengan hukum yang benar.”
    [Majmu’ Fatawa jilid.3]

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah juga berkata :
    “Thaghut adalah wazan fa’alut dari thughyan,
    sedangkan thugyan itu adalah melampaui batas, yaitu kedzaliman dan aniaya.
    Maka yang diibadati selain Allah bila dia itu tidak membenci peribadatan tersebut
    adalah thaghut, oleh sebab itu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam
    menamakan patung-patung sebagai thaghut di dalam hadits shahih tatkala beliau berkata:
    “Dan orang yang menyembah para thaghut dia mengikuti para thaghut itu.”
    Dan yang ditaati dalam maksiat kepada Allah, juga yang ditaati dalam mengikuti
    kesesatan dan dalam selain dienul haq, baik dia itu diterima beritanya
    yang menyelisihi kitabullah atau ditaati perintahnya yang menyelisihi perintah Allah
    maka ia itu adalah thaghut, oleh sebab itu orang yang dirujuk hukum yang memutuskan
    dengan selain kitabullah adalah dinamakan thaghut,…”
    (Majmu’ Al Fatawa: 28/200, lihat kitab Ath Thaghut milik Abu Bashir halaman 66).

    IMAM HANAFI :
    “Jika seorang penguasa meyakini bahwa hukum yang Allah turunkan
    tidak wajib diamalkan atau boleh memilah-milih hukum Allah
    yang sesuai dengan seleranya meskipun masih meyakini tentang wajibnya,
    dia telah berbuat kufur akbar (menjadi kafir).”
    [Syarah Al Aqidah AthThahawiyah, 2/446]

    IMAM MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB :
    “Thaghut beraneka ragam bentuknya, induknya ada 5 macam, yaitu:
    1. Syaithan yang menyeru untuk beribadah kepada selain Allah.
    2. Penguasa zhalim yang merubah hukum Allah.
    3. Orang yang berhukum kepada selain hukum Allah.
    4. Orang yang mempelajari ilmu ghaib.
    5. Orang yang disembah selain Allah dan ridha terhadap persembahan yang diperuntukkan baginya.”
    [Majmu’ At Tauhid hal.14-15]

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah RA berkata:
    “Dan kapan saja seorang alim meninggalkan apa yang dia ketahui
    dari Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya
    lalu mengikuti hukum penguasa (hukum pemerintah THOGHUT) yang bertentangan
    dengan hukum Alloh dan Rasul-Nya, maka ia telah murtad dan kafir
    serta pantas baginya mendapatkan siksa di dunia dan di akhirat.”
    (Majmu’ Fatawa, 35/373).

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah RA juga berkata :
    “Dan barangsiapa berbuat di muka bumi tanpa berlandaskan kepada kitab Allah dan sunnah
    rasul-Nya maka berarti ia telah bekerja untuk berbuat kerusakan di muka bumi.”
    (Majmu’ Fatawa, 28/470)

    Abu Dzar RA berkata :
    “Aku bersama Nabi suatu hari dan aku mendengar beliau bersabda :
    “Ada hal yang aku takutkan pada ummatku melebihi Dajjal”.
    Kemudian aku merasa takut, sehingga aku berkata :
    “Yaa Rasululloh apa itu…? ”
    Beliau bersabda : “Ulama yang sesat lagi menyesatkan (ulama suu’)”.
    {Musnad Ahmad (5/145) no 21334 dan 21335}.

    Firman Allah SWT :
    “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka
    sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan)
    Al masih putera Maryam, Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa,
    tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia.
    Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”
    (QS. At-Taubah: 31)

    Imam At Tirmidzi rahimahullah meriwayatkan, bahwa ketika ayat ini (QS. At-Taubah: 31)
    dibacakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam di hadapan
    ‘Adiy ibnu Hatim (seorang shahabat yang asalnya Nashrani kemudian masuk Islam),
    ‘Adiy ibnu Hatim mendengar ayat-ayat ini dengan vonis-vonis tadi,
    maka ‘Adiy mengatakan:
    “Kami (orang-orang Nashrani) tidak pernah shalat atau sujud kepada alim ulama
    dan rahib (pendeta) kami”,

    Jadi maksudnya dalam benak orang-orang Nashrani adalah
    kenapa Allah memvonis kami telah mempertuhankan mereka,
    atau apa bentuk penyekutuan atau penuhanan yang telah kami lakukan sehingga
    kami disebut telah beribadah kepada mereka padahal kami tidak pernah shalat
    atau sujud atau memohon-mohon kepada mereka?

    Maka Rasul mengatakan:
    “Bukankah mereka (alim ulama dan para rahib) menghalalkan apa yang Allah haramkan
    terus kalian ikut menghalalkannya, dan bukankah mereka telah mengharamkan
    apa yang Allah halalkan terus kalian ikut mengharamkannya?”

    Lalu ‘Adiy ibn Hatim menjawab: “Ya”,

    Rasul berkata lagi:
    “Itulah bentuk peribadatan mereka (orang Nashrani) kepada mereka (alim ulama dan para rahib).”

  10. Darimana Anda menyimpulkan ISIS itu TERORIS…………???

    MANA FATWA RESMI MUInya…………?!!!!

    (jika HUJJAH mu itu benar………….)

    mana link address mengenai fatwa resmi MUI ????

    ISIS atau IS atau Daesh atau ISIL itu juga SUNNI (Aswaja)
    karena memerangi pemerintahan IRAQ & SYAM yang syi’ah….!!!!

    (SYI”AH kok memerangi SYI”AH………..????)

    INI BERITA/ARTIKEL tahun 2014……..
    sekarang di penghujung thn 2016…….MANA FATWANYA….????

  11. Bagaimana Nasab Syaikh Ibrahim Ibn Awwad (abu Bakri Al-Baghdadiy)?

    Dia adalah seorang syaikh mujahid, ahli ibadah, zuhud, amirul mukminin, panglima segenap
    katibah mujahidin,

    Abu Bakar Al-Qurasyi Al-Husaini Al-Baghdadiy yang merupakan cucu dari
    ‘Armusy bin
    Ali bin
    ‘Id bin
    Badri bin
    Badruddin bin
    Khalil bin
    Husain bin
    Abdullah bin Ibrahim
    Al-Awadh bin
    Asy-Syarif Yahya ‘Izzuddin bin
    Asy-Syarif bin
    Bisyir bin
    Majid bin
    Athiyah bin
    Ya’la bin
    Duwaid bin
    Majid bin Abdurrahman bin
    Qasim bin
    Asy-Syarif Idris bin
    Ja’far Az-Zaki bin
    Ali Al-Hadi bin
    Muhammad Al-Jawwad bin
    Ali Ar-Ridha bin
    Musa Al-Kazhim bin
    Ja’far
    Ash-Shadiq bin
    Muhammad Al-Baqir bin
    Ali Zainal Abidin bin
    Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib dan Fathimah binti Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

  12. Dalam risalah Ushul As-Sunnah karya Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullahu, poin ke 26, disebutkan bahwa di antara sebaik-baik manusia setelah Rasulullah adalah para sahabat dari golongan Muhajirin yang berpartisipasi dalam Perang Badar, dan mereka menduduki posisi di atas golongan Anshar yang ikut dalam perang tersebut.
    Di posisi teratas, setelah Rasul, adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, lalu Umar bin Al-Khaththab, lalu Utsman bin ‘Affan. Setelah ketiganya adalah “ashhab asy-syura” (para sahabat anggota syura) yang lima: Ali bin Abi Thalib, Thalhah, Az-Zubair, Abdurrahman bin ‘Auf, dan Sa’ad. Setelah ashhab asy-syura adalah para sahabat Rasul yang ikut Perang Badar (ahlu Badr) dari golongan Muhajirin, lalu ahlu Badr dari golongan Anshar.
    (Lihat: Ushul As-Sunnah, Imam Ahmad bin Hanbal)

  13. Abu Bakar pernah mencetuskan bahwa kaum Muhajirin layak untuk tampil sebagai para pemimpin, dan kaum Anshar dapat bekerjasama menjadi pembantu mereka. Hal demikian diketahui dari pernyataan terkenal Abu Bakar dalam ‘episode’ pemilihan khalifah (pengganti) Rasulullah. Abu Bakar mengatakan, “Nahnu al-umaraa` wa antum al-wuzaraa` (kami adalah para pemimpin, dan kalian adalah para menterinya).”
    Singkat cerita, setelah Rasulullah wafat, para sahabat berkumpul untuk memilih pengganti beliau. Kaum Anshar (ummat muslim yang berada di Madinah dan tidak ikut Hijrah) berkumpul menemui Sa’ad bin ‘Ubadah di tenda Bani Sa’adah. Lalu mereka berkata, “Dari pihak kami (Anshar, pen) ada pemimpinnya, begitu pula dari pihak kalian (Muhajirin, pen) ada pemimpinnya.”
    Lalu Abu Bakar, Umar bin Al-Khattab, dan Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah mendatangi mereka (setelah mendengar kabar bahwa kaum Anshar sedang mengadakan pertemuan untuk mendiskusikan tentang sosok pemimpin Ummat Islam berikutnya setelah mengingalnya Rasulullah SAW).
    Kemudian Abu Bakar mulai berbicara dengan perkataan-perkataan yang menunjukkan pembicaraan manusia bijak. Dia berkata dalam bagian pembicaraannya itu, “Kami (Muhajirin) adalah para pemimpin, sedangkan kalian adalah para menterinya.”
    Spontan, Hubab bin Al-Mundzir menggugat, “Tidak, demi Allah, kami tidak mau seperti itu. Tapi kami mempunyai pemimpin dan kalian pun mempunyai pemimpin tersendiri.”
    Abu Bakar menjawab, “Tidak. Tapi kami (Muhajirin, pen) adalah para pemimpin dan kalian (Anshar, pen) para menterinya. Para Muhajirin adalah orang Arab yang tempat tinggalnya paling tengah dan keturunan Arab yang paling murni. Untuk itu, berbaiatlah kepada Umar atau Abu Ubaidah.”
    Maka Umar menimpali, “Tidak begitu. Sebaliknya kami yang berbaiat kepadamu (Abu Bakar, pen). Karena, sungguh engkau adalah pemimpin kami, orang terbaik di antara kami, dan orang yang paling dicintai Rasulullah.” Kemudian Umar memegang tangan Abu Bakar, lalu berbaiat kepadanya, dan diikuti oleh banyak orang.”
    (Shahih Al-Bukhari, no. 3394)

  14. Dalam hadits disebutkan;
    “Perkara ini (imamah -ed) akan tetap berada ditangan suku Quraisy selama masih ada dua orang di kalangan manusia” (HR Bukhari)

    Ibnu Hajar Rahimahullah berkata: “Disimpulkan dari hadits itu bahwa para sahabat bersepakat bahwa mafhum hadits itu adalah untuk pembatasan (artinya tidak boleh selain suku Quraisy menjadi Imam -ed). Inilah pendapat jumhur ahli ilmu, bahwa syarat seorang Imam adalah dia berasal dari suku Quraisy”.

    Asy Syinqithi berkata dalam tema imamah ini: “Orang Quraisy didahulukan daripada lainnya selama syarat-syarat imamah terpenuhi dan dia tetap menegakkan Din”.

    Anehnya, berlawanan dengan ahlus sunnah (aswaja/sunni), ternyata kaum Khawarij tidak mensyaratkan imam berasal dari suku Quraisy. Namun ketika kita melaksanakan sunnah ini, Daulah Islamiyyah (Islamic State) malah dituduh Khawarij.

  15. Salah satu syarat imamah menurut ahlus sunnah adalah berasal dari suku Quraisy. Jumhur telah mensyaratkan hal itu berdasarkan hadits berikut :
    (ﺍﻷﺋﻤﺔ ﻣﻦ ﻗﺮﻳﺶ)
    “Para imam itu berasal dari Quraisy” (Muttafaq ‘alaih/ HR Bukhariy-Muslim)

    Bahkan Al Mawardi menukil adanya ijma’ dalam syarat ini.

    Dalam hadits disebutkan;

    “Para pemimpin itu dari suku Quraisy”

    Ibnu Katsir berkata di dalam tafsirnya, “Kita tidak boleh mengingkari orang-orang yang
    mewasiatkan agar berbuat baik, menghormati, dan memuliakan Ahul Bait. Karena
    mereka berasal dari keturunan yang suci, berasal dari keluarga paling mulia yang pernah
    ada di muka bumi, dalam hal keluhuran derajat, kedudukan, dan nasab. Terlebih lagi
    apabila mereka adalah orang-orang yang mengikuti Sunnah Nabi yang shahih, jelas, dan
    terang. Hal ini sebagaimana telah dilakukan para pendahulu mereka, seperti Al-Abbas
    dan kedua putra-putranya, Ali dan keluarganya. Semoga Allah meridhai mereka
    semuanya.”

    Imam Ahmad melansir sebuah riwayat di dalam Musnad-nya dari Al-Abbas bin Abdul
    Muthalib Radhiyallahu ‘Anhu.
    Al-Abbas menceritakan, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah,
    apabila sebagian kaum Quraisy bertemu dengan sebagian lainnya, maka mereka akan
    menyambut dengan wajah berseri-seri dan sikap baik. Namun apabila mereka bertemu
    dengan kami, maka mereka tampil dengan roman muka yang tidak kami kenali?”
    Al-Abbas berkata,
    “Maka Rasulullah marah besar dan bersabda, “Demi Allah, tidak akan
    masuk keimanan ke dalam hati seseorang, sehingga dia mencintai kalian karena Allah dan
    keluarga kerabatku.”

  16. SEMOGA BERMANFAAT……………!!!

    Wallahu ‘alam…………….

  17. Darimana Anda menyimpulkan ISIS itu TERORIS…………???

    MANA FATWA RESMI MUInya…………?!!!!

    (jika HUJJAH mu itu benar………….)

    mana link address mengenai fatwa resmi MUI ????

    ISIS atau IS atau Daesh atau ISIL itu juga SUNNI (Aswaja)
    karena memerangi pemerintahan IRAQ & SYAM yang syi’ah….!!!!

    (SYI”AH kok memerangi SYI”AH………..????)

    INI BERITA/ARTIKEL tahun 2014……..
    sekarang di penghujung thn 2016…….MANA FATWANYA….????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: