Ulama Mie Instan Seleraku ! Waspadai

Ulama Mie Instan Seleraku !

Saya kira hampir tidak ada orang Indonesia yang tidak kenal produk makanan mie instan. Di negeri ini cukup banyak merek mie instan yang beredar dengan beragam kemasan, rasa dan ragamnya.

Mie instan adalah makanan ‘ajaib’, karena ada banyak kelebihannya. Yang paling utama adalah bahwa mie instan merupakan makanan yang tersedia dimana-mana, baik yang masih dalam kemasan di warung-warung, hingga warung makan yang khusus menyajikannya mie instan yang sudah dimasak.

Dulu kalau orang bikin acara syukuran di rumahnya, kepada para tamu biasanya dibagikan berkat berupa nasi uduk dan teman-temannya. Tapi di zaman modern ini, berkatnya sudah bukan lagi nasi uduk, tetapi beragam bahan-bahan mentah, salah satu yang tidak pernah ketinggalan adalah mie instan.

Setiap kali ada bencana entah itu banjir, kebakaran, gempa, tanah longsor atau pun tsunami, bantuan yang datang dari banyak pihak umumnya berupa mie instan. Entahlah, mungkin karena dianggap praktis memasaknya, cukup diseduh air panas dan siap dimakan, sehingga mie instan menjadi favorit.

Percaya atau tidak, ketika kemarin saya terbang dengan salah satu maskapai dalam negeri, salah satu menu yang ditawarkan oleh pramugari kepada para penumpang adalah mie instan. Kendaraanya keren, yaitu pesawat terbang, tapi makanannya tetap mie instan.

Malah dalam dalam iklan-iklan yang ditayangkan di televisi, sering digambarkan bahwa walaupun sudah tinggal di luar negeri, tetapi tetap saja orang Indonesia masih mencari produk mie instan kesayangan. Bawa mie instan dari dalam negeri untuk dijadikan makanan kenang-kenangan selama tinggal di manca negara. Keren sekali, bukan.

Dan jangan lupa, sekian tahun yang lalu ketika kampanye pemilihan presiden, salah satu lagu yang digubah oleh tim sukses Presiden SBY juga menggunakan lagu iklan salah satu produk mie instan. Gubahannya menjadi ….SBY seleraku. Wah, wah!

Cuma Mie

Padahal kalau mau jujur, sebenarnya semua mie instan itu biasa-biasa saja. Tidak ada yang bisa terlalu dibanggakan, karena sebenarnya cuma mie biasa saja dan tidak lebih. Benar, cuma mie saja dan hanya mie, tidak ada tambahan apa-apa di dalam bungkusannya.

Kalau pun ada, cuma gambarnya saja yang dibuat menarik selera. Coba perhatikan, semua mie instan yang dijual itu dikemas dengan bungkus bergambar mie matang yang sudah disajikan. Gambarnya sangat menarik selera tetapi sekaligus juga bisa menipu. Seolah-olah isinya sudah dilengkapi dengan aneka asesorisnya, seperti telur, daging ayam, sayuran, daun bawang, irisan sosis, irisan jeruk nipis, irisan tomat, lengkap dengan efek asap yang masih mengepul.

Yang hebat adalah tukang potret dan desainer gambarnya. Sebab karyanya bisa membuat kita semua membayangkan bahwa seolah-olah seperti itulah isi kemasannya.

Padahal kalau kita buka kemasannya, semua bahan tambahan itu tidak pernah ada. Yang ada cuma mie yang dikeringkan, ditambah bumbu instan, minyak dan sambal bubuk. Untuk memasaknya cukup dengan direbus dengan air lalu semua bumbunya dicemplungkan apa adanya dan selesai sudah. Kalau bisa dicemplungkan telur ke dalamnya, rasanya sudah sangat mewah. Tetapi telurnya beli sendiri dan tidak ada di dalam kemasan.

Tidak ada tambahan bahan-bahan seperti yang ada di gambar kemasan. Bahkan seumur-umur saya malah belum pernah makan mie instan yang dimasak persis seperti yang digambar kemasannya, baik yang dibikin oleh istri saya atau oleh pihak-pihak yang ‘pro’ yaitu warung mie instan sekalipun.

Hasil penelurusan ke berbagai warung mie instan yang banyak di perempatan jalanan, saya belum pernah juga menemukan kreatifitas warung mie instan yang memasak dan menyajikan mie instan itu dalam bentuk seperti yang ada di gambar kemasannya.

So, gambar kemasan itu nyaris tidak pernah terwujud, tidak pernah eksis dan tidak pernah ada. Karena bahan-bahannya memang tidak pernah dilengkapi dalam kemasan. Kalau pun mau, ya kita harus cari sendiri bahan-bahan pelengkapnya. Tetapi semua kita sudah tahu hal itu, sehingga tidak pernah komplain juga.

Mie Instan Kaya Rasa

Setiap kemasan mie instan itu punya rasa yang berbeda-beda. Ada banyak pilihan rasa yang ditawarkan. Ada rasa soto ayam, rasa daging rendang, rasa bakso, rasa ayam panggang, rasa cabe ijo, rasa mie celor, dan sejuta rasa lainnya.

Tetapi sayang sekali, semua rasa itu hanya rasa di lidah saja. Karena semua produk mie instan memang hanya menggunakan perasa atau perisa buatan saja.

Ketika saya diminta suatu hari mengisi pengajian berbuka puasa di salah satu pabrik perisa, para jamaah yang kebanyakan adalah karyawan pabrik itu bilang bahwa hampir semua produk makanan kemasan bahkan termasuk pembersih yang menggunakan perisa produk mereka.

Kalau ada sabun beraroma khas bunga tertentu misalnya, maka yang dipakai adalah perisa atau essence. Dan semua mie instan yang beredar di pasaran dengan aneka rasa, pasti menggunakan essence produk mereka.

Maka meski mie instan yang kita makan itu rasa daging sapi, tetapi kita tidak pernah memakan dagingnya, karena dagingnya tidak pernah ada, yang ada cuma rasanya. Mie instan rasa rendang itu cuma rasa, daging rendangnya tidak pernah ada sama sekali. Mie instan rasa ayam panggang itu cuma rasa, ayam panggangnya entah kemana.

Ulama Mie Intstan

Kasus ketiadaan wujud daging rendang dan ayam panggang kecuali hanya rasanya pada mie instan ini mirip sekali dengan keberadaan ulama di negeri kita. Kalau sekedar tokoh yang punya rasa ulama sih banyak, dimana-mana kita temukan. Tetapi yang benar-benar merupakan sosok ulama dengan segala syarat dan kedalaman ilmunya masih jarang-jarang kita temukan.

Kalau sekedar tokoh yang rajin berpenampilan dimirip-miripkan dengan ulama, atau bergaya bicara seperti ulama, atau yang sok mengaku-ngaku ulama, nyaris setiap hari kita lihat gambarnya di sudut-sudut jalanan. Kadang dengan beraninya tanpa malu mereka bikin lembaga yang namanya pakai embel-embel ‘ulama’.

Tetapi kalau dikritisi sekali lagi, ternyata semua itu cuma sebatas rasanya saja, rasanya rasa-rasa ulama, tetapi terus terang isinya sama sekali bukan ulama. Sebatas gambarnya saja yang mirip ulama, tetapi isi kemasannya sama sekali bukan ulama. Bahkan jauh sekali dari ulama.

Kenapa Tidak Termasuk Ulama?

Karena untuk menjadi ulama itu sangat berat syaratnya. Selain harus mengerti Al-Quran dan semua cabang ilmunya termasuk ilmu tafsir, para ulama juga harus banyak mengenal hadits dan semua cabang ilmunya. Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa setidaknya mujtahid itu menghafal 500 ribu hadits dulu sebelum berfatwa.

Al-Imam Asy-syafi’i meski lahir di Arab, namun masa kecilnya dihabiskan di Bani Huzail untuk mempertajam kemampuan bahasa dansastra Arab. Sebab kedua sumber syariat Islam yaitu Al-Quran dan As-Sunnah berbahasa Arab. Tidak cukup sekedar belajar bahasa Arab empat semester saja, tetapi harus menguasai ribuan bait syiir bangsa Arab.

Dan satu yang paling menjadi dasar kenapa sulit sekali menjadi ulama dan mujtahid, yaitu ketika Ibnu Al-Qayyim dalam I’lam Al-Muqaqqi’in menuliskan bahwa hanya sekitar 120 orang shahabat saja yang mujtahid dalam arti yang sesungguhnya.

Padahal kita tahu bahwa di dalam hadits nabi disebutkan jumlah shahabat nabi tidak kurang dari 124 ribu orang. Tidak mentang-mentang orang Arab, tidak mentang-mentang bisa bahasa Arab, tidak mentang-mentang pernah bertemu langsung dengan Rasulullah SAW, tidak mentang-mentang tinggal di Madinah bersama beliau SAW, lantas dia ujug-ujung menjadi mujtahid.

Tidak mentang-mentang suatu hadits itu shahih, lantas langsung bisa ditarik kesimpulan. Sebab sumber hadits shahih itu adalah shahabat nabi. Lha wong shahabat itu sendiri bukan mujtahid, beliau mungkin llihat, mungkin dengar, mungkin tahu kejadiannya. Tetapi bagaimana kesimpulan hukumnya dan bagaimana menarik kaidah istimbath hukumnya, lain cerita lagi.

Buktinya banyak sekali ijtihad keliru yang dilakukan oleh mereka yang berstatus shahabat nabi. Salah satunya ketika ada seorang shahabat ketahuan berguling-guling telanjang bulat di pasir. Ketika ditanya kenapa, jawabannya karena dia mau mandi janabah tapi tidak ada air. Ternyata dalam bayangannya, kalau mau wudhu’ tidak air bisa tayammum pakai pasir, maka logikanya kalau mandi janabah tidak ada air, maka bisa mandi pakai pasir sambil bugil berguling-gulingan di atasnya. Ini bukti bahwa meski berstatus shahabat, tidak lantas dia ahli ijtihad.

Apalagi ketika ada shahabat berfatwa wajibnya mandi janabah buat orang yang kepalanya bocor berdarah. Sayang sekali ijtihadnya keliru, alih-alih suci dari hadats besar, seusai mandi janabah malah meninggal dunia. Betapa luar biasa marahnya Rasulullah SAW mendengar kabar buruk ini. Beliau sampai bilang bahwa obatnya bodoh itu bertanya. Kalau pakai bahasa kita, jangan asal njeplak dalam berfatwa. Bukan mujtahid kok sok berijtihad, sudah keliru bikin orang mati pula.

Kalau shahabat saja belum tentu mujtahid, apalagi kita. Bahasa Arab tidak paham, baca Al-Quran berantakan, Hafalnya cuma juz 30 dan bukan 30 juz. Hadits cuma hafal matannya saja, itupun cuma 40-an hadits Arabain An-Nawawiyah. Tidak kenal ulama, tidak tahu karya mereka, tidak paham ilmu ushul fiqh, qawaid fiqhiyah, ilmu mantiq, nasakh mansukh, ‘aam dan khas, serta maqashid syariah.

Pendeknya ilmu kita ini cuma sebatas ilmu-ilmuan dan bukan ilmu betulan yang dimiliki oleh para ulama sungguhan. Kita ini cuma mirip ulama tetapi bukan. Cuma rasa ulama tapi bukan ulama yang sesungguhnya. Ibarat mie instan di atas, cuma kemasannya saja meriah dan menarik hati. Isinya tetap saja mie juga dan tidak lebih.

Maka kita sebagai ulama ‘palsu’ atau ulama ‘gadungan’, tentu harus tahu diri lah. Kita yang gadungan tetapi mengaku-ngaku sebagi ulama asli, kok bisa-bisanya menunjuk para ulama yang benar-benar asli sebagai gadungan? Lucu, terbalik dan sangat tidak masuk akal, bukan?

Apalagi kita yang gadungan ini pakai acara ‘mengadili’ para ulama yang asli, yaitu sok melakukan ‘tarjih’. Pendapat para mujtahid itu meski satu dengan yang lain bisa saja berbeda, tetapi statusnya sudah selesai ditarjih oleh para pakarnya dan tidak butuh ditarjih lagi. Lagian yang mentarjih levelnya jauh lebih rendah, bahkan terlalu rendah, yaitu kita-kita ini yang jujur saja cuma sekedar ulama ‘gadungan’.

Sudah lah, jangan yang bodoh-bodoh seperti kita ini belagak pintar sambil sok mentarjih pendapat para ulama. Harusnya kita malu dan tahu diri. Katakan saja dengan jujur bahwa kami ini bukan ulama, jangan tanya suatu masalah kepada kami karena kami bukan ahlinya.

Kami sekedar menyampaikan fatwa-fatwa yang telah diijtihadkan oleh para ulama yang sesungguhnya, kami hanya meriwayatkan fatwa-fatwa itu. Selebihnya, wallahu ‘alm bishshawab.

~ Ahmad Sarwat, Lc., MA via Rumah Fiqh `

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: